Langsung ke konten utama

BERTANYA PADA KENANGAN

Wahai kenanganku…
Yang menyimpan beribu asa dan bahagiaku
Sedikit saja aku ingin lihat
Kenangan indah masa kecilku
Karena riang itu telah termakan usia ini
Kala itu beda, belum ada makna yang jadi cerita

Aku sungguh tak ingat kala aku dilahirkan ke dunia ini
Menangis atau tertawa,
Dicium atau digendong
Saat aku mulai bisa berjalan dan melihat jelas
Tak tau untuk apa mata ini
Untuk apa mulut dan telinga ini
Tangan, kaki
Untuk apa semuanya ada padaku

Bisakah aku melihat kembali semuanya?
Berharap pada kenangan
Yang menyimpan semua tulisan dan cerita
Baik buruknya juga comelan…***

by Zainal A

Komentar

Postingan populer dari blog ini

siluet cinta

Mengapa aku cinta pada mu?.. Tanya pada Surya di belakang ku memantulkan bayang cinta di hadapan Berdiri kokoh cinta pagi ini Bait Senandung bertutur merdu pada sebuah pagi di bulan Mei Aku percaya pada kata hati... yang tampak darinya seperti siluet ditimpa sinar pagi Tak berbias Apa adanya Bahagia Ku berkembang pada kelopak bunga liar di tepi jalan pada semilir kerinduan yang kerap bersahabat akhir- akhir ini Ada jiwa yang tertawa, Ingin ku sampaikan pada mu detik ini Aku setengah gila mecumbui udara hangat sebab ada busur hati mu dari segala penjuru... Pada bunga liar dan angin pagi ini Semerbak riang berhamburan menaiki atmosfer lantas memantulkan ia pada hatimu yang juga terjaga Aku merindui mu seperti bait-bait cinta alam Pagi ini, pada bulan ke lima Aku tersadar alam begitu indah karena dirimu... Aksan/ Kenanga, 13 Mei 2008. 6.54 AM

leaflet vol.2

Dunia Dalam Berita

Inilah Dunia Dalam Berita Bernama sejak dahulu kala… Masih Ia mementaskan lakon hidup penuh intrik Pernah bersisi pada titah Pa Tua Jua Propaganda hidup Gemah Ripah Sejahtera…kata mereka Sejuta jargon pada Sembilan itu Melengking hingga ke Papua Kau boleh hidup dalam periode getir Pada stasiun yang tampak tua Tentang Zaman yang makin mengecil Tunggang Langgang dalam Kompetisi Ketar ketir Anu_mu masih ku lihat pada malam-malam Ketika SBY- Berbudi mula menapak jilid Dua Sedang, Ia yang dulu terhina, Berjabat mesra Bercinta kilat dengan Srikandi rakyat jelata Berseberang satu sama lain Kamu Masih berbicara Santun… Tentang mu bagai mabuk tak berkesudahan Secawan "TOMI" dicampur Ragi ketan Hitam Diteguk Mami hampir tiap malam. *** DD, Pada Malam dan Hujan tiada