Langsung ke konten utama

PUISI UNTUK BUNGA

Bunga
Kau tahu
Aku sering tertawa sendiri
Begitu terbuka jendela lalu
Saat itu, saat pertemuan kita dulu
Kau bertanya padaku
Mengapa kau panggil aku bunga?
Tanya mu lembut pada ku
Karena kau indah,jawab ku
Bunga
Sejak ku bertemu dengan mu
Perjalanan yang dulu sunyi, sepi
Gersang, tandus
Kini indah dan meriah
Bunga
Ku begitu ingin memiliki mu
Tapi langkah ku mesti berlanjut
Tugas berat menanti ku
Ku takut kau layu dan mati bersama ku
Bunga
Saat aku melangkah menjauh
Dan perlahan hilang dari pandangan mu
Ku ingin kau tahu
Aku menyayangi mu

------andi zulkapiyo----Gerobak kakilima-----------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

siluet cinta

Mengapa aku cinta pada mu?.. Tanya pada Surya di belakang ku memantulkan bayang cinta di hadapan Berdiri kokoh cinta pagi ini Bait Senandung bertutur merdu pada sebuah pagi di bulan Mei Aku percaya pada kata hati... yang tampak darinya seperti siluet ditimpa sinar pagi Tak berbias Apa adanya Bahagia Ku berkembang pada kelopak bunga liar di tepi jalan pada semilir kerinduan yang kerap bersahabat akhir- akhir ini Ada jiwa yang tertawa, Ingin ku sampaikan pada mu detik ini Aku setengah gila mecumbui udara hangat sebab ada busur hati mu dari segala penjuru... Pada bunga liar dan angin pagi ini Semerbak riang berhamburan menaiki atmosfer lantas memantulkan ia pada hatimu yang juga terjaga Aku merindui mu seperti bait-bait cinta alam Pagi ini, pada bulan ke lima Aku tersadar alam begitu indah karena dirimu... Aksan/ Kenanga, 13 Mei 2008. 6.54 AM

leaflet vol.2

Dunia Dalam Berita

Inilah Dunia Dalam Berita Bernama sejak dahulu kala… Masih Ia mementaskan lakon hidup penuh intrik Pernah bersisi pada titah Pa Tua Jua Propaganda hidup Gemah Ripah Sejahtera…kata mereka Sejuta jargon pada Sembilan itu Melengking hingga ke Papua Kau boleh hidup dalam periode getir Pada stasiun yang tampak tua Tentang Zaman yang makin mengecil Tunggang Langgang dalam Kompetisi Ketar ketir Anu_mu masih ku lihat pada malam-malam Ketika SBY- Berbudi mula menapak jilid Dua Sedang, Ia yang dulu terhina, Berjabat mesra Bercinta kilat dengan Srikandi rakyat jelata Berseberang satu sama lain Kamu Masih berbicara Santun… Tentang mu bagai mabuk tak berkesudahan Secawan "TOMI" dicampur Ragi ketan Hitam Diteguk Mami hampir tiap malam. *** DD, Pada Malam dan Hujan tiada