Langsung ke konten utama

??????????????????????

Tak tik-tak tik suara jam dinding, yang menghibur heningnya malam Saat aku duduk termenung Dengan posisi aku dalam keadaan bingung Memikirkan nasib akan bangsa ku ini Kenapa bencana datang silih berganti?

Ketika aku terjaga dari lamunan ku
Lalu aku berdiri di dekat pepohonan dan aku pn bertanya kepada mereka Pohon, kenapa banjir dan tanah longsor slalu menutupi bumi pertiwi ini?
Sipohon pun menangis dan belum menjawab
Kemudian aku berlari mendekati gunung dan aku pun bertanya kepadanya Oh gunung, kenapa engkau dengan sringnya meletus dan memuntahkan larva mu?
Si gunung pun terdiam dan belum menjawab.

Aku pun berfikir dan berdiam diri sejenak Kemudian ku mengadukan kegundahan hati ini kepada Sang Maha Pencipta Tuhan, mengapa berbagai bencana datang silih berganti di Bumi Pertiwi?
Apakah ini sumua dikarenakan kelalaian kami?

Mungkinkah ini teguran atau pringatan MU akan kedurhakaan kami kepada Mu?
Yang tlah brani mengganti hukum-hukum MU yang ada di Bumi Dengan sombongnya kami menciptakan hukum sendiri Dan hukum-hukum MU kami kesampingkan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

siluet cinta

Mengapa aku cinta pada mu?.. Tanya pada Surya di belakang ku memantulkan bayang cinta di hadapan Berdiri kokoh cinta pagi ini Bait Senandung bertutur merdu pada sebuah pagi di bulan Mei Aku percaya pada kata hati... yang tampak darinya seperti siluet ditimpa sinar pagi Tak berbias Apa adanya Bahagia Ku berkembang pada kelopak bunga liar di tepi jalan pada semilir kerinduan yang kerap bersahabat akhir- akhir ini Ada jiwa yang tertawa, Ingin ku sampaikan pada mu detik ini Aku setengah gila mecumbui udara hangat sebab ada busur hati mu dari segala penjuru... Pada bunga liar dan angin pagi ini Semerbak riang berhamburan menaiki atmosfer lantas memantulkan ia pada hatimu yang juga terjaga Aku merindui mu seperti bait-bait cinta alam Pagi ini, pada bulan ke lima Aku tersadar alam begitu indah karena dirimu... Aksan/ Kenanga, 13 Mei 2008. 6.54 AM

leaflet vol.2

Dunia Dalam Berita

Inilah Dunia Dalam Berita Bernama sejak dahulu kala… Masih Ia mementaskan lakon hidup penuh intrik Pernah bersisi pada titah Pa Tua Jua Propaganda hidup Gemah Ripah Sejahtera…kata mereka Sejuta jargon pada Sembilan itu Melengking hingga ke Papua Kau boleh hidup dalam periode getir Pada stasiun yang tampak tua Tentang Zaman yang makin mengecil Tunggang Langgang dalam Kompetisi Ketar ketir Anu_mu masih ku lihat pada malam-malam Ketika SBY- Berbudi mula menapak jilid Dua Sedang, Ia yang dulu terhina, Berjabat mesra Bercinta kilat dengan Srikandi rakyat jelata Berseberang satu sama lain Kamu Masih berbicara Santun… Tentang mu bagai mabuk tak berkesudahan Secawan "TOMI" dicampur Ragi ketan Hitam Diteguk Mami hampir tiap malam. *** DD, Pada Malam dan Hujan tiada